Jumat, 20 April 2018

Aku sebut ini,Amarah.

Kenapa berhenti berjalan? Karena aku merasa lelah. Mengapa Lelah? Karena merasa baik baik saja tanpa diberi kesempatan untuk berbagi kebahagiaan maupun kesedihan itu bukanlah hal yang mudah. Mengapa? Karena bagaimana bisa kau berpura pura seakan akan tidak ada hal yang terjadi padamu entah baik maupun buruk kau tetap harus tenang. Terpaksa atau dipaksa akupun tak tau. permainan apa yang sedang dibuat buat merka untukmu. Untuk tetap menguntungkan satu pihak dan merugikan yang lain. Ini adalah bagian dari dunia yang tak pernah kusukai. Egois. Keras Kepala. Diri sendiri. Hal yang sangat kubenci dengan berbagai asumsi didalamnya,hal yang selalu aku sesalkan hadir pada setiap orang orang yang ku bersamai. Hingga membuatnya sadar atau tidak sadar telah menyakiti siapapun termasuk aku. Bagaimaba tidak? Begitu tak berbentuk sekarang hati yang sudah memperjuangkan doa dan kebahagiaan bagi orang lain yang bahkan melihat saja tidak,memperhatikan saja tidak hingga harus menyakiti . Mengapa harus menyakiti,jika memang tidak bisa? Kutanya pada mereka uang kini terduduk membisu tak bisa menjawab hingga membuat lidah mereka kelu? Jika tak bisa melakukan apa apa mengapa harus menyakiti? mengapa tidak senyum saja? Melukiskan lengkungan di bibir saja setidaknya bisa membuat hati siapapun tenang. Senyum itu,mungkin tak berati bagimu tetapi berarti bagi mereka yang memperhatikanmu dan memperdulikan kebaikan-mu. Yang membiarkan waktu berdoanya habis hanya untuk berdoa untuk segala kebaikanmu.

Benar benar tidak adil.

Kekecewaanku sekarang sangatlah tak biasa. Hingga membuat ubun ubunku terasa mau meluncur dari tempatnya,membuat mataku terasa perih menahan sesuatu yang jatuh dan membuat bibirku merasa kelu hingga tak mampu bicara. Dadaku terasa sesak terpenuhi segala hal yang akan membuncah dengan hebat. Iya aku marah. Iya aku kecewa. Aku sudah lelah dengan segala ke pura puran yang terlalu dibuat buat. Dengan segala lengkung bibir yang sengaja dibuat karena sesuatu hal. Pun dengan berbagai kata yang mengharapkan kebaikan tetapi pada akhirnya membuat hati terasa sakit saat mendengarnya. Aku sudah lelah berjuang. Lagi. Aku sudah tak ingin berjalan menapaki rel yang seharusnya ku tapaki. Aku menatap rel yang terpampang didepanku. Kurasa cukup,batinku. Episode ini akan segera kuakhiri. Dengan segala peran yang akan kuhabisi,dengan segala aktor dan aktria yang ada didalamnya akan ku akhiri. Tidak akan ada lagi aku,tidak akan lagi kau temukan diriku yang dulu. Yang hangat,yang selalu membuatmu bahagia,yang mensupport setiap hal yang kau lakukan,yang menanyakan kondisimu dahulu tanpa kau tanya balik,yang mengutamakan kepentinganmu diatas kepentingannya. Tidak akan kau temukan dia lagi. Tidak akan.

Aku akan terus berbalik menjauhi rel yang seharus ya kutempuh. Ku tak sanggup lagi, kata ku pada diriku sendiri. Ku tatap cermin didepanku dalam dalam ku tatap sosoknya lekat lekat. Ku tatap nanar sosok itu dengan rasa pilu penuh kasihan. Mata yang hampir tak bisa melihat dengan jelas karena menahan sesuatu didalamnya untuk tidak jatuh. Bibir yang bergetar karena menahan sesuatu untuk diungkapkan. Ku tatap lagi sosok itu dalam dalam. Aku mengasihani diriku sendiri saat ini. Benar benar mengasihani diriku sendiri. Ku berbalik dan membelakangi cermin itu,dan kuputuskan untuk terus berjalan menjauh dari rel itu. Tidak akan ada yang mengerti ,batinku. Akan menjadi sia sia. Kan kubuat jarak agar aku bebas bergerak. Kan kubuat tempat agar aku tak dapat disekat. Kan kubuat diriku tenang,kan ku buat hatiku lapang. Mungkin hanya butuh beberapa waktu. Kan kubuat semuanya kembali baik. Baik. Tetapi tidak bisa seperti semula. Baik versiku tentu saja. Kan kubuat semuanya menjadi baik tanpa menyisakan kecewa lagi untuk siapa siapa . Kecewaku akan ku akhiri,begitupun juga peranku akan ku akhiri. Amarah yang meledak ledak di otakku akan kuredam tetapi tidak akan kubiarkan teredam sebelum waktunya. Aku. Benar Benar. Kecewa. Tanpa. Ada. siapapun. Disisiku. Saat. Ini. Yang. Mengerti. kondisiku. Aku-lah satu satunya yang terluka. Aku-lah satu satunya yang menyerah.

Selasa, 05 Desember 2017

Dibalik Ketenangan-ku

Aku tenang,karena sudah memutuskan untuk membiarkanmu berjalan didepanku dengan atau tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. Aku tenang,karena aku telah melepaskan kamu yang memang mungkin masih belum ditakdirkan untukku. Aku tenang, karena menyadari segala hal yang terjadi ini memiliki esensi bagi diriku dan juga bagi dirimu. Aku tenang, karena telah melihatmu bersama dengan orang lain yang kini sudah mendampingimu di sisimu dan bahagia tentunya. Aku tenang,tuan.

Ketenanganku bukan tidak berdasar,bukan tidak tanpa ikhtiar. Ikhtiarku,doaku dan usahaku sudah ku lakukan sepenuhnya untuk melawan rasa tanpa harus mengungkapkan kata. Ikhtiarku bukan dengan mencoba berinteraksi denganmu,namun denganNya. Dengan sang pemilik hatimu,dengan sang maha esa yang membawamu bertemu dengan ku. Begitu indah bukan pertemuan kita dirancang sedemikan rupa oleh Nya ,lalu kamu dan aku tak pernah mendapat kesempatan untuk bersama namun berpisah kemudian. Aku tenang,karena aku sudah menggantungkan rasaku kepada Rabbky disetiap sujud dan doaku. Yang tentu tak pernah berhenti merapal namamu,yang tak pernah absen menceritakan tentangmu disetiap harinya. Ketika rindu tiba,aku kembali kepada rabbku bercerita banyak tentang kerinduanku denganmu. Ketika kekecewaanku tiba, aku kembali kepada Nya menceritakan keluh kesahku tentangmu. Bahkan ketika kamu memutuskan untuk bersama orang lain,aku juga masih kembali menceritakan mu kepada Nya. Agar senantiasa membawa mu kedalam tapak tapak jalan surga,agar senantiasa meliputi hidupmu dengan penuh kebahagiaan,agar senantiasa sehat dan kuat dalam menghadapi ujian disetiap hidupmu. Agar senantiasa menunjukkanmu kepada kebenaran yang hakiki yang selalu kau ajarkan kepadaku,tuan . Hm. Benar, aku tenang karena sudah melihatmu bahagia kini,meski bukan aku penyebabnya. Aku tenang doaku sudah allah sampaikan padamu untuk selalu membuatmu bahagia,dengannya. Selamat ya tuan. Percayalah,aku akan baik baik saja. Tak usah kau risaukan aku. Aku akan pulih dengan seiring berjalannya waktu.

Ketenanganku adalah bentuk ikhtiarku dalam menaruh rasa,memperjuangkan perasaanku membunuhnya dalam dalam dan membalutnya dengan rasa ikhlas dengan cinta rabbku. Aku berjanji padamu,aku akan tetap tenang. Walaupun  nantinya perasaan ini akan didera berbagai hal buruk dikemudian hari,aku janji aku akan tenang. Bukan untukmu,bukan. Tapi untuk rabbku,rabb yang tak pernah meninggalkanku sendirian. Rabb yang senantiasa mendengarkan keluh kesahku tentangmu. Dialah rabbku,ketenangan ini berdasar karena ada DIA. Sekali lagi,kuucapkan selamat padamu. Ku doakan setiap inci kebahagiaan untukmu,mas . Ku doakan setiap langkah kakimu akan selalu berpegang teguh pada perintahNya. Aku akan sangat merindukanmu. Pasti. Tapi akan kuusahakan semuanya baik baik saja. Tenang saja. Pergilah,jangan kecewakan dia yang sudah kau usahakan mati matian kebahagiaannya. Terimakasih sudah menguji ketenanganku Semoga engkau selalu dalam lindungan allah,dan selalu bahagia disetiap langkah yang kau pilih. Selamat Tinggal. 

Minggu, 26 November 2017

Jangan Lakukan Politik pada [Keluarga]Mu

Sebut sajalah mereka yang membersamaimu saat ini adalah orang orang yang begitu penting dalam prosesmu menuju tujuanmu. Mereka yang membersamaimu tentu orang orang yang sudah ditakdirkan Allah untuk menemani,membersamai dan berjalan sejajar denganmu. Allah atur pertemuan mu dengan mereka sedemikian rupa,hingga pada akhirnya kamu dan mereka bisa bertemu dan menjalin hubungan yang baik. Bukankah disaat kita jauh dari keluarga,mereka adalah bagian dari keluargamu? Mengapa Keluarga? Karena definisi keluarga sendiri adalah dimana kamu bisa merasakan sebuah rumah walaupun kau tak sedang dirumah. Tujuanmu kembali dan berkeluh kesah setelah rabbmu. Mereka yang nantinya menjadi tempatmu berbagi suka maupun duka akibat perjalanan panjang hidup yang melelahkan. Mereka juga yang akan selalu ada disisimu,membersamai mu dengan berbagai macam kekurangannya untuk melengkapimu. Lalu sanggupkah kamu berlaku tidak adil terhadap mereka? Sanggupkah? Kebenaran dibagian mana yang pada akhirnya membenarkan setiap orang untuk berlaku tidak adil terhadap saudaranya,apalagi membuat salah satunya saling mendzalimi? Tidak ada yang benar,saudariku. Ketidak adilan hanya akan membuatmu dirimu sakit,merasakan luka yang teramat dalam hingga membuatmu merasa sendiri. Politik kebaikan yang kamu lakukan ini,tidak akan menjadi episode akhir dari cerita nya saudariku,percayalah.

Tidak ada kebaikan yang benar benar bisa dirancang dan dipura purakan. Tidak ada ketulusan yang benar benar bisa kau buat buat,karena semuanya itu bukan buatan manusia,saudariku. Itu bagian dari tangan Allah ,yang melimpahkan rahmat kepada setiap hambanya sehingga dadanya berdesir damai dan menumbuhkan kebaikan serta ketulusan. Jangan kau politiki,Keluargamu saudariku. Mereka semua yang sedang membersamaimu sekarang adalah keluargamu. Jangan membuat mereka kecewa hingga harus berlaku tidak adil dengan berbagai cerita yang kau coba reka reka itu. Tidak semudah itu,itu hanya akan membuat mu sibuk untuk mereka reka alur cerita selanjutnya,percayalah itu merepotkanmu,saudariku. Tak perlu kau berpura pura menjadi orang lain,mereka keluargamu akan mengerti semua yang kamu resahka dan takutkan. Bahkan disaat orang lain tidak bisa mengertimu,mereka akan mengerti ketika kamu melakukan salah. Pulanglah,kembali dan berbagilah dengan mereka. Mereka akan mengertimu,lebih dari yang kau tau. Mungkin bisa saja mereka bisa mengertimu,lebih dari kamu mengerti dirimu sendiri. Belajar untuk berkhusnuzon ya saudariku. Tidak,aku tidak sedang menggurui siapa siapa ,aku juga masih sama sama belajar ,sama sepertimu. Alangkah baiknya kita bisa belajar bersama sama kan?

Mari berhenti saudariku,janganlah lagi kau pikirkan mengenai strategi strategi politik yang pada akhirnya akan menyakitimu dan menyakiti keluargamu. Yang pada akhirnya kau akan curangi mereka dan tidak berlaku adil pada mereka. Bukankah meringankan beban setiap saudara muslim adalah ganjaran pahala baginya juga? Kau pasti sudah mengerti,saudariku. Lihat dan datanglah kepadaa mereka,duduk lah satu meja dengannya dan tanyakan bagaimana kondisi mereka saat ini,apa yang sudah mereka lakukan untukmu. Tanpa sepengetahuanmu. Percayalah,prasangkamu itu akan membuatmu sedikit lebih tenang jika kau melihat mereka,mengerti apa yang mereka mau,bukankah keluarga memang harus saling mengerti ? Iyakan? Politik tidak pernah baik saudariku percayalah. Orang orang tinggi di Negara ini sudah banyak yang jadi korban karena politik. Politik menggadaikan kebaikan hati seseorang,jadi jangan lakukan ini pada keluargamu.


Jadilah dirimu sendiri,yang sederhana yang tak perlu menjadi orang lain yang ikhlas untuk setiap kekurangan kita dan kelebihan kita. Jangan takut oleh kekurangan saudariku,itu adalah hal yang biasa yang diberikan oleh Allah untuk kita. Dengan  kekurangan itu,muncul rahmat allah untuk saling bisa melengkapi diantara kita,bukan begitu? Akan ada banyak hal yang mungkin kau tidak mengerti,tapi prasangkamu akan membuatmu mengerti nantinya. Jangan takut,jangan bersedih hanya berusaha menjadi lebih baik. Doa keluargamu akan selalu menyertaimu. Mari luruskan niat bersama sama,marilah berjalan bersama ,mari bersejajar denganku.  Barakallahu fiik,saudariku.

Selasa, 07 November 2017

Berjibaku Dengan Prasangka

Semoga prasangkamu dan prasangkaku membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik . Yang dekat dengan-Nya,yang semakin taat kepada perintah dan larangannya.

Saya tidak begitu mengerti apa yang sedang terjadi padamu dan padaku. Apa yang sebenarnya sedang mengganggu pikiranku,entah itu juga sedang mengganggu pikiranmu atau tidak. Entah seberapa dalam kecewamu terhadapku. Entah seberapa dalam rasa sakit yang kamu pun rasakan karena prasangkaku. Entah juga seberapa banyak doa yang kupanjatkan agar prasangkamu tak seperti yang ku prasangka kan saat ini. Hm . Ingin sekali ku jelaskan tapi kupikir akan membuang sangat banyak waktu,karena ku yakin kau juga tak akan mudah mengerti. Aku hanya takut,kamu tidak mengerti. Aku takut ada yang terluka diantara kita.  Entah kamu ataupun aku. Begini saja,kita sudah terluka bukan? Padahal kita tidak sedang berjalan kemana mana. Kita sudah terluka. Apalagi beranjak dan melakukan sesuatu,mungkin bisa lebih sakit dari ini. Kita hanya bercakap lewat doa saja semuanya menjadi sangat rancu hingga membuatku dan kamu sakit. Hingga prasangkaku dan prasangkamu saling menyakiti pada akhirnya. Kumohon maafkan aku. Aku yang bersalah, karena aku tak pernah mencoba membuatmu bertahan. Bahkan saat kau sudah memutuskan untuk melanhkah meninggalkan,aku masih saja terdiam dan tak mencoba menahanmu pergi. Kumohon maafkan aku. Bukan ku tak mau,bukan. Tentu saja aku mau menahanmu,tentu saja aku ingin membuat mu mengerti. Tentu saja aku ingin mengerti prasangkamu terhadapmu. Tentu saja. Tetapi lebih dari itu. Ada hal yang lebih penting dari itu. Aku tidak bisa melakukannya,karena memang aku tak seharusnya melakukannya. Aku terperangkap dalam jebakan setan yang membuatku jatuh cinta padamu. Iya benar,aku sudah jatuh cinta padamu. Pada akhlakmu. Pada santunmu,tatapanmu, percakapan kita. Aku jatuh cinta pada setiap inci euforia yang kau ciptakan saat kita sedang bercakap. Jatuh cinta pada setiap senyum yang selalu kau lemparkan pada setiap pertemuan. Walaupun tanpa ada kata. Tanpa ada perlakuan. Tatapanmu saja sudah cukup untukku.

Oleh karenanya,kuputuskan untuk berjalan mundur. Aku tak ingin cinta ini semakin menjadi. Cinta yang tak halal ini menjadi bomerang untukku sendiri. Sungguh,bukan dirimu yang ku tolak hanya rasa cinta yang belum halal ini yang ingin segera ku enyahkan dan ku bunuh dalam dalam . Agar tak pernah menyakitimu dan aku. Sungguh,akupun ingin menjelaskan semua ini padamu. Sungguh aku ingin kau tau bahwa doaku tak pernah berhenti merapal namamu. Sungguh prasangkaku tak pernah berubah haluan darimu. Semuanya masih sama . Seperti saat kau memulai segalanya. Masih sama walaupun pada akhirnya kita akan selesai saat ini juga. Maafkan aku. Maafkan prasangkaku. Maafkan keterbatasanku. Aku yakin ini berat untukmu mengerti ,karna tak sesuai dengan logikamu. Karena tak sesuai dengan jalan pikiranmu. Tapi sudahlah,kau tak seharusnya mengerti . Biar aku saja yang menanggung semuanya. Aku juga terluka karena sudah menyakitimu,mohon maafkan aku. Maaf tak bisa menahanmu pergi,maaf tak pernah mencoba menenangkanmu saat prasangka burukmu tentangku meluap luap di otakmu. Kau tak bisa sembunyikan itu. Tatapanmu sudah cukup menggambarkan bahwa kau sedang marah denganku. Bahwa kau sedang tak ingin melihatku. Sikap dinginmu sudah cukup membuktikan bahwa kau tak ingin ada aku lagi disana. Dihatimu. Kau sudah tutup rapat semuanya. Kau sudah akhiri semuanya tanpa meminta penjelasan dan klarifikasi apa apa padaku. Tapi baiklah ,ku tak bisa  melakukan apa apa. Aku mengerti kemarahanmu. Aku mengerti kekecewaanmu. Aku mengerti sakit hatimu. Sudahlah biar aku saja yang mengerti,kamu jangan .

Tuan,prasangkaku dan prasangkamu biarlah berjalan sesuai dengan jalan takdir yang sudah dipilihkan Nya untuk kita. Jikalau memang prasangkamu tak sesuai dengan prasangkaku,setidaknya aku akan terus mendoakanmu bahwa prasangka ini akan segera ada ujungnya. Akan selalu berujung pada kebaikan. Tuan. Ku sedang berjibaku membunuh prasangka prasangka buruk padamu,membunuh prasangka prasangka yang mampu membuatku tak henti memikirkanmu. Kamu benar tuan,kita memang seharusnya berhenti . Berhenti memprasanhkai siapapun dari kita. Memprasangkai satu sama lain. Sudahlah . Biar Allah saja yang tau prasangkaku dan prasangkamu. Karena hanya allah lah yang berhak atas keduanya. Yang berhak mengatur prasangka kita. Yang sudah lelah berjibaku dengan prasangka diri sendiri yang tak segera menemui arti.

Minggu, 13 Agustus 2017

Diluar kemampuan seorang Aku.

Aku. Masih menjadi subjek disetiap tulisan yang aku tulis pada setiap paragafrafnya. Aku. Yang masih berusaha menahan sesak yang begitu membuncah didalam dada yang tak pernah ada akhirnya. Aku yang selalu menahan setiap lara namun membalutnya bersama senyum penuh lara yang seolah olah tersamar menjadi senyum penuh bahagia. Aku yang selalu memberikan terbaik untuk mereka yang selalu aku utamakan dan prioritaskan. Aku yang selalu berusaha melakukan terbaik untuk mereka yang aku tak bisa hidup tanpa mereka.Aku dan mereka,orang orang yang selalu aku doakan disetiap sujud setiap akhir perbincangan ku dengan Rabbku. Mereka yang selalu ku sebut namanya disetiap akhir doa yang kupanjatkan kepada rabbku. Mereka yang mengisi hidupku,yang begitu memiliki porsi penting disetiap tempat didalam hati dan juga pikiranku. Mereka yang membuatku kuat setelah rabbku. Mereka yang begitu penting didalam hidupku hingga tak pernah sanggup aku menyakitinya. Jangan hanya membuat sakit,hanya sekedar melihat dia menahan sesak dadanya saja aku tak sanggup. Aku. Begitu. Menyayangi. Mereka.

Begitu dalam rasa sayang yang kumiliki,tak terasa juga akulah sang tokoh yang tersakiti. Berperan sangat terpuji namun tetaplah aku yang menjadi objek didalam cerita ini. Akulah yang satu satunya menahan tangis ditengah tengah mereka. Aku lah yang menahan rasa hampa,luka dan patah asa. Aku lah yang menahan sesaknya dada hanya untuk memberikan senyuman tipis diwajah mereka. Aku lah mengalah hanya untuk sekedar membuat mereka lega. Terkadang aku merasa ketidak adilan ini begitu menyelimuti hingga membuatku jatuh terpuruk tak kuasa menahan perih. Hingga-mataku selalu berkunang kunang ketika melihat satu persatu mata orang yang kusayangi itu. Selalu ada bulir air mata ,selalu ada rasa sakit dibawah dada,selalu ada sesak yang tak pernah bisa dijelaskan saat mereka bertanya "kau kenapa". Kebahagiaan ataukah kesedihan ? Aku juga tak mengerti. Apa yang sedang ku rasakan. Seharusnya aku juga ikut tersenyum saat melihat satu persatu dari mereka bahagia. Melapangkan dadaku menerima apapun yang sudah mereka putuskan untuk ku. Untuk takdirku. Memilih tinggal dan peduli atau memilih pergi dan tidak peduli. Mataku terus saja berkunang kunang menahan agar setiap bulirnya tak jatuh dipipi. Agar tak ada yang melihat bahwa hatiku sedang tidak baik. Sedang membuncah tak baik,sedang bergerilya memberontak tak ada arah.

Aku,yang merasa memiliki mereka. Yang kupikir tak akan pernah merasakan sepi. Pada akhirnya aku sendiri. Dalam kesendirian air mata jatuh tak  bisa kukendalikan. Rintihan bibir seolah olah ingin berteriak tapi tak bisa kulakukan. Kuhanya menahan rasa sesak dadaku dan menutup mulutku rapat rapat agar tak menimbulkan suara ditengah tengah jatuhnya air mataku. Dalam kesepian aku meradang. Dalam kediaman aku tersungkur lemah tak berdaya. Dalam ketidak adilan aku sudah mempercayakan kebahagiaan yang ku kira akan membuatku lebih baik. Tak ada. Tak ada yang membuatku bisa baik hari ini. Aku sudah tak ada . Hatiku sudah rusak dan mati. Cintaku dan rasa kasihku sudah tak terasa didalam hati. Tersisa perih dan luka. Aku hanya bisa merajut sisa sisa harapan yang ada didalam dada untuk membuatku sedikit bergerak dari ketidakberdayaanku. Walaupun raut tak bisa kusembunyikan setelahnya,walaupun mata bengkak akan terlihat setidaknya aku bisa menyembunyikan hati yang sudah tak karuan bagaimana keadaannya. Aku. Kehilangan. Diriku sendiri. Aku sudah tak ada lagi. Aku sudah mati. Bersama mereka yang sudah memilih pergi.

Tidak lagi akan ada aku. Tidak lagi akan ada aku. Tidak lagi akan ada aku,yang peduli untuk mereka. Yang memilih membahagiakan mereka yang tak pernah memilih membahagiakan ku. Tidak lagi akan ada aku. Bulir air mata yang terjatuh menjadi saksi bisu mengapa aku tak mampu. Mengapa aku tak bisa. Mengapa aku tak kuasa menahan semuanya. Bagaimana bisa kuceritakan kepada mereka yang ku rasakan jika alasan yang menyakitiku adalah mereka? Bisakah kau jelaskan? Sanggupkah dirimu menceritakan batinmu yang tersiksa kepada mereka yang sudah membuatnya hancur dan berantakan. Sanggupkah dirimu? Kuyakin tak akan sanggup. Ku yakin kau tak akan bisa. Rasa sayangmu yang membuatmu pada akhirnya memilih mundur dan memilih menajamkan pisau lukanya kedalam dadamu. Kau saja yang memilih mati daripada mereka yang kau sayangi terlukai. Sudah kubilang kan? Semuanya tidak mudah,sayang. Tidak akan pernah mudah. Aku yang selalu dibersamai mereka yang kusayangi.nyatanya aku sendirian ,aku tak bisa apa apa,aku terluka,aku yang mengalah dan kemudian aku yang memilih mundur. Dan kemudian aku tak bisa bertahan untuk lebih lama. Tak akan ada lagi aku.

Selasa, 01 Agustus 2017

Teruntuk Kamu,Jodohku di Lauful Mahfuz

                Assalamualaikum kamu yang sedang menunggu indahnya penantian. Wahai kamu yang saat ini sedang berusaha mati matian memperbaiki diri untuk meraih RidhoNya. Kamu yang selalu tak henti kusebut namanya dalam setiap sujud disepertiga malamku. Mas. Yang kelak menjadi calon imamku nanti. Apakabar kamu sekarang? Mengapa kamu terlihat ragu seperti itu? Mengapa kau takut kita tak akan bertemu? Mas,percayalah Allahku tak akan pernah mengecewakanmu atau siapapun. Kita akan bertemu pada wakttu dimana takdir sudah mengizinkan episodenya untuk kita.
                Mas,Bukankah kita pernah bertemu di Lauful Mahfuz? Saat aku dan kamu belum diutus oleh Rabbku ke dunia yang fana ini. Kita pernah dipertemukan,bercengkrama bersama hingga kita sudah saling jatuh cinta bukan? Hingga pada akhirnya Allah mengutus kita ke dunia dan memberi ujian kepada kita untuk melupakan satu sama lain. Tapi tidakkah kita akan bertemu lagi di dunia? Bisajadi dengan cerita yang indah di atas kesucian cinta bernama pernikahan. Mas,percayalah walopun aku tak pernah tau bagaimana rupa dan fisikmu,aku sudah mencintaimu dan mendoakanmu disetiap sujudku. Tidakkah kau tau mas? Ku pendam rindu yang amat dalam ini agar aku Allahku tak cemburu. Kubisikkan rinduku kedalam sujudku yang kemudian mengangkasa bersama di langit dan mungkin kau bisa merasakannya,bukan?
                Untukmu ,jodohku di Lauful Mahfuz. Yang namanya sudah dituliskan berdampingan bersama dengan namaku di Lauful MahfuzNya. Aku sedang berusaha memperbaiki diriku mati matian agar aku bisa menjadi istri yang baik untukmu. Ibu yang baik untuk anak anak kita. Bukankah madrasah pertama bagi anak anaknya adalah ibunya? Iyakan mas? Mas,Aku sedang berusaha menjaga kehormatanku agar aku tak mengecewakanmu. Bukankah setiap istri adalah mahkota bagi suaminya? Aku tak ingin karena diriku kau harus merasakan pedihnya api neraka karena tak bisa membimbingku. AKu juga tak ingin kau yang menanggung dosa dosa yang sudah ku perbuat. Mas,Aku tau aku punya masa lalu yang sangat buruk begitupun juga dengan dirimu. Tapi sudahlah mas biarlah masa lalumu milikmu dan masa lalu milikku,tetapi masa depan adalah milik kita. Ku terima dirimu dengan segala kekurangan yang kau miliki,cukup dengan ridho Allah saja kita akan bahagia. Mas,kusedang belajar agama lebih dalam agar aku tak salah memperlakukan mu sebagai surgaku yang sesuai dengan syariat islam,aku tak ingin mengecewakanmu. Aku juga sedang menambah hafalan hafalanku agar aku bisa menemani anak anak kita untuk belajar al quran dan aku tidak malu ditanya olehnya.

                Wahai kamu jodoh yang sudah ditakdirkan untukku,aku akan selalu menunggumu dipintu rumahku. Menunggumu untuk bertemu ayahku dan segera menghalalkanku. Aku tak membutuhkan apapun untuk kau dapat mengkhitbahku,hanya dirimu dan keberanian mu saja itu sudah cukup. Niatkan karena allah mas,agar cinta kita di Ridhai Oleh Nya. Aku tak akan pernah letih menunggumu dan memperbaiki diriku menjaga kehormatanku hanya untukmu,hingga kau datang meminangku. Mas,Akan selalu kusampaikan rinduku disetiap sujudku untukmu.Akan selalu kusampaikan doaku untukmu,walaupun kita tak pernah bertemu. Aku mencintaimu karena Allah mas. Bahkan aku jatuh cinta padamu sedari aku belum pernah melihatmu,aku sudah jatuh cinta padamu dan merindukanmu. Aku tunggu kedatanganmu menemui ayahku mas,Semoga allah selalu menjagamu untukku. Barakallah fiikum,jodohku .

Selasa, 18 Juli 2017

Kau Penyebab Perpindahan Bernama Harapan

                Ada batas dimana aku tak pernah bisa memahami setiap detak jantung yang ditimbulkan bersama dengan momen yang sedang kualami. Ada saat dimana aku hanyalah seorang hamba yang tak pernah bisa melangkah jauh tanpa ridho rabbku. Aku haruslah mengikuti setiap aturan yang ada. KU harus mengikuti aturan main dunia yang semakin tak menentu kemana arahnya. Ku harus siap dijatuhkan kapanpun waktunya. Dan disinilah aku sekarang. Masih tertunduk terpaku berusaha berdiri berkali kali namun tak menemui perpindahan sama sekali. Tak menemui adanya perbedaan jarak . Tak menemui arti dari sebuah perbedaan. Disinilah aku sekarang yang masih berkutat dengan masa lalu yang tak bisa dibilang indah juga tak bisa dibilang sempurna. Yang masih merintih menahan sakit untuk bekas luka yang ditimbulkan oleh sisa sisa masa lalu. Apa yang sedang terjadi padaku? Memori segala kenangan kehilangan memutar dikepalaku,tak bisa kuenyahkan begitu saja. Kesendiran,kesepian serta keterpurukan kembali melanda. Hingga kau hadir lagi sebagai sosok baru dan mencoba merubah segalanya. Bolehkah kusebut itu,”Harapan Baru?” bolehkah?
                Ya,tuan kau datang tanpa beban. Kau masuk kedalam ruang yang dulunya telah dihancurkan dengan begitu parah. Kau masuk kedalam ruang yang didalamnya aku masih takut akan terjadi lagi seperti dahulu. Traumakah aku? Mungkin saja. Tuan,kau tunjukkan aku segala hal yang kau sebut dengan duniamu. Kau berikan tanganmu untuk membantuku yang sedang duduk sendiri ,kau bantu aku bangkit dari rasa sakit yang sudah kupendam satu tahun lamanya. Hanya saja ku takut,aku tak bisa memberikan apa apa kepadamu karena keterbatasanku atas kewajibanku sebagai hamba untuk rabbku. Ku tak bisa menjanjikan apa apa selain mendoakanmu disetiap akhir dari sujudku. Tidakkah itu lebih penting dari setiap kata yang harus kukatakan kepadamu? Bukankah yang diam diam itu jauh lebih indah daripada yang berterus terang? Dengar tuan,kehadiranmu memang istimewa. Tapi tetap saja ku tak bisa melakukan apa apa. Ku hanya bisa mendoakanmu untuk setiap langkah yang kau pilih. Atau bahkan jika kau harus tak dibersamakan denganku,ku bisa apa tuan? Tidakkah takdirNYA jauh lebih baik daripada kita? Ku hanya bisa berikhtiar mendoakanmu,selanjutnya? Biarkan tuhan yang memilihkan jalan kemana kamu dan aku akan melangkah. Akupun tak tau apa yang kau rasakan sekarang. Sekedar singgahkah? Atau menetap? Ku serahkan semuanya hanya kepada rabbku.

                Kehadiranmu membuatku mengerti art perpindahan yang dibalut dengan rasa bahagia akibat dari HARAPAN BARU. Aku bahkan tak mengerti apa apa saja yang sudah kau lakukan untuk itu? Padahal hanya hal hal  sederhana tapi rasanya kau sudah memberikan GAYA yang cukup besar hingga membuat perpindahan terjadi. Tapi tetaplah ingat tuan,bukan ku menyembunyikan apapun bukan ku ingin menyakitimu hanya saja aku masih takut. Seandainya saja ku bisa ceritakan semuanya. Seandainya saja kau bisa mengerti. Seandainya saja perpindahan yang kau buat bukan perpindahan yang tak berarah. Seandainya saja perpindahan itu bertujuan.  Ah sudahah apa yang sedang kupikirkan? Aku tak bisa berharap apa apa dari perpindahan yang kau berikan. Aku tak bisa berharap apa apa bahkan dari yang kusebut HARAPAN BARU. Tapi  aku percaya setiap perpindahan kecil terjadi atas seizinNYA. Juga bersama nya dihadirkan setiap INCI HARAPAN BARU YANG POSITIF. INSHAALLAH.