Sabtu, 02 Juni 2018

Seperti Yang DIA Mau

"You just dont understand",kataku sekali lagi sembari menatap matanya lekat lekat sekali lagi. Mata yang selalu membuatku tenggelam bersama kenangan
"I do understand" ,tegasnya meraih tanganku. Aku mengelak dan berjalan mundur sejenak.
"Kamu egois. Kamu ga peduli sama orang lain",katanya dengan nada sedikit tinggi dan masih menatapku,tapi kini mata ku sudah beralih menatap kakiku.
Aku merunduk,tak berani menatap matanya,menahan bulir bulir yang se akan jatuh dari mata . Panas,batinku.
"Iya. Kamu benar,maka dari itu pergilah",jawabku dengan nada sangat pelan dengan bibir bergetar . Kulihat tangannya berusaha meraih daguku,ku elakkan tangannya jauh jauh.
"Haram",elakku. Dia mendengus kesal,berbalik sambil menggerutu mengacak acak rambutnya yang kini sudah tak setebal dulu.
"Aku ngga ngerti apa maumu,sampai kamu memilih untuk tidak bersamaku. Kamu bilang ini harapan,lalu kenapa kamu menyuruhku pergi",tanyanya panjang lebar dengan gerak gerik yang mengatakan seolah olah dia ingin tau jawabannya dariku.
"Tidak ada hubungan,laki laki dan peremouan bagaimana pun caranya ,apapun namanya selain pernikahan",ku tatap wajahnya yang kini berubah menjadi sangat sendu. Sendu sekali. Matanya mulai berkaca kaca. "Maaf",kataku sekali lagi berusaha menenangkannya yang mungkin sedikit kacau dan berbalik badan lalu pergi. Kudengar isak tangisnya  kini  dan aku masih terus berjalan meninggalkan.

Beberapa tahun silam,percakapan itu benar benar kini sedang berlari lari di pikiranku. Setelah kejadian itu aku memutuskan untuk tidak bersama siapapun ,untuk menjauhinya hingga waktu yang tak ditentukan lagi. Itu percakapan yang begitu membuatku teringat oleh laki laki yang kini sedang berada didepanku. Iya benar ,laki laki yang sama,namun dengan situasi dan kondisi berbeda. Kini dia sudah dewasa , sudah mapan dan sudah berani untuk bertanggung jawab kepadaku. Pria yang dulu masih acak  acakan gayanya,kini sudah berubah menjadi sosok yang luar biasa tanpa kuduga,celana cingkrang jenggot sedikit  terlihat diujung dagunya yang manis itu.
"Aku mengerti sekarang",katanya pelan menghancurkan lamunanku seketika yang kini ada didepan pintu rumahku.
"Mengerti apa ? Mau apa kesini?",tanyaku gugup dan semakin khawatir. Bagaimana jika tetangga tau,bagaimana jika ayah dan ibu tau ada teman laki laki datang kerumah.
"Tenang,aku kesini tidak untuk bertemu kamu. Aku tidak ada urusan denganmu,aku ingin bertemu bapakmu". Deg. Kata katanya membuatku semakin menjadi jadi tak karuan perasaan.
"Siapa mbak? Suruh masuk saja jika ingin ketemu bapak",teriak bapak yang sudah sedari tadi duduk diruang tamu. Aku yang masih bingung apa yang akan dilakukannya segera mempersilahkan dia masuk . Dia pun menyalami ayahku,dan kemudian aku diminta ayah untuk membuatkannya minum. Aku berbalik badan tak sengaja mendengar perkataan mereka samar samar. Ada apa dengan mereka berdua,batinku.
Aku membawakan 2 buat gelas teh hangat dan meletakkannya tepat di depan meja 2 orang laki laki yang kini tengah menatapku. 
"Duduklah nak",pinta ayah mengagetkanku secara tiba tiba. Aku masih bingung dan membisu . Apa yang sedang terjadi disini. Mengapa suasana menjadi sangat tegang,hingga detik jam dinding di ruang tamu sangat terdengar olehku.
"Ini nak Hazel,dia ingin melamarmu",kata kata itu terlepas begitu saja dari bibir ayah dan membuat dadaku penuh sesak ,entah sesak bahagia atau sesak kaget tak karuan.
"Apa? Melamar? Ba Ba Bagaimana bisa?",Kataku dengan mata melotot menatap ayahku yang kini sudah berganti raut menjadi senyum bahagia.
"Kau mengenalnya bukan?",tanya ayah menggoda yang membuat ku semakin tak karuan rasanya.
"Benar,dia temanku waktu aku kuliah. Tetapi kita tidak pernah menjalin hubungan apapun,yah.",jelasku menyangkal adanya fitnah dan pikiran negatif yang bisa saja timbul dari ayah.
"Ya benar,Tris. Kau benar semenjak kejadian dimana kau meninggalkanku terisak sendiri,aku pun menyadari. Memang seharusnya begitu,pernikahan adalah jalan satu satunya bentuk cinta seorang laki laki dan perempuan. Terimakasih sudah mau menjaga dirimu untuk pasangan halalmu. Dan kini,aku ingin membuktikan padamu bahwa cinta yang ku maksud dulu adalah cinta yang memang benar benar karna Allah. Aku jatuh cinta pada akhlaqmu Tris. Karena sakit hati yang kau berikan padaku,aku belajar dan mencari alasan mengapa kau pergi begitu saja. Dan kini aku mengerti",matanya bebinar bahagia .
Mata yang sama dengan kondisi berbeda yang kutemui 5 tahun lalu. Yang dulunya sendu kini mata itu membuatku semakin tenang dan percaya.
"Tapi,kuliahku saja belum selesai yah. Aku masih harus mengurus beberapa hal untuk wisudaku.",terangku kepada ayah sembari menuturkan kondisiku yang sebenarnya
"Ayah terserah kamu tris,yang penting kebahagiaanmu nomor 1 kau tau mana yang baik bagimu dan mana yang tidak. Kau boleh terima lamarannya,atau kau boleh menolaknya. Untuk kuliah,kau pun bisa menikah dengan menyelesaikan wisudamu",jawah ayah dengan sangat menenangkan hatiku sembari mengusap kepalaku lembut sekali.
"Aku siap membiayaimu,lahir dan batin. Membimbingmu ke jalan yang menurut sunnah rasulullah,menuntunmu ,melindungimu,hingga Allah yang memisahkan kita",katanya meyakinkanku. Aku terdiam sangat lama,mataku berkunang kunang bahagia. Laki laki yang dulu sempat singgah dan kubunuh rasanya mati matian kini ada didepan ku untuk meminangku. Laki laki yang namanya tak henti aku doakan kebaikannya,kini sedang bersama ayahku untuk memintaku menjadi pendamping hidupnya.
"Aku ingin kamu yang menjadi madrasah pertama bagi anak anakku,tapi Ku hargai keputusanmu jika kau masih belum siap tris. Dan juga....",kata katanya menggantung begitu saja
"Ya. Aku mau" Jawabku dengan tegas dan cepat. Ayahku langsung menatap ku lekat lekat dan memelukku dengan sangat hangat. Ku lihat dia disela sela pelukan ayahku,raut wajahnya berubah bahagia. Bulit bulir bening terjatuh dari mata teduh itu. Allah,inikah bahagia yang kau janjikan atas dasar cinta kepadamu? batinku.

Setelah kejadian itu,akupun melaksanakan berbagai tahap tahap taaruf yang sesuai menurut syariat islam dan kami pun menikah. Dengan prosesi ijab qobul yang sakral,dan resepsi yang sederhana saja aku sudah bahagia. Yang kupikirkan,hanya dia. Yang kini sudah halal menjadi suamiku,surgaku,dan kepadanya kini aku mengabdikan hidupku. Serasa Cinta diam diam fatimah dan ali. Bahagia sekali.
"Terimakasih ya mas,sudah mau menghalalkanku",kataku disela sela resepsi pernikahan kita. Yang hanya dihadiri oleh teman dan kerabat dekat saja.
"Mengapa trimakasi? You deserve this. Dan ini caraku untuk memperlihatkan padamu cinta 5 tahun yang kusimpan diam diam itu",katanya sambil tersenyum simpul. Aku memeluknya dengan sangat hangat pria itu.
Dapatkan sesuatu yang baik dengan cara yang baik pula,dengan cara yang Allah Mau. Cinta apa yang kau akan takut kurang mendapatkannya,sedangkan kau adalah hamba dari yang Maha Pemilik Cinta.


Ditulis Pukul 01.30 A.M Untuk Menenangkan Setiap Hati Yang Kini Tengah Letih Menanti Pertemuan Yang Akan Di-Ridhai Illahi