Sabtu, 20 Mei 2017

LUKA YANG TAK KUNJUNG SEMBUH

Ku berjalan menyusuri setiap jalan setapak yang ingin kulalui bersama setiap langkah kaki. Ku berjuang menapaki setiap inci yang ada mmembarka segala kerikil menusuk setiap tapak kaki. Kubiarkan lukanya terasa sakit dan kubiasakan rasa sakitnya didalam diriku. Kunikmati setiap rasa sakit yang tumbuh,dan kubiarkan semuanya terasa sakit. Luka yang tak pernah kunjung sembuh. Luka yang selalu menguak duka lama. Luka yang disebabkan oleh setiap kisah baru yang ada. Pasti akan sembuh. Entah dalam jangka waktu yang lama ataupun jangka waktu yang cukup singkat. Disinilah aku sekarang,berdiri merengkuh setiap luka yang menyesakkan diri . Bukan karena masa lalu,bukan karena duka yang telah ada,atau duka karena yang sudah lama terkuak kembali. Bukan. Duka karena kisah baru bersama dengan orang baru .
                Tak bisakah dia melihat bagaimana aku tertatih menggenggam luka di tangan? Tak bisakah mereka melihat mata yang menyorot pada setiap kesedihan. Aku yang terlalu pandai menyembunyikan luka ataukah mereka yang terlalu buta melihat. Ku masih ingat betul,bagaimana kita disatukan dalam sebuah kerjasama yang membuat kita melakukan beberapa janji untuk selalu ada. Beberapa janji untuk berjalan sejajar,hingga jika ada yang terjatuh satu sama lain dapat membantunya berdiri. Tetapi kini kemankah mereka semu yang berjanji akan selalu ada. Berjanji akan membantu berdiri sendiri. Aku masih sendiri merengkuh luka memeluk duka dan berdamai dengan kesendirian kekosongan dan keterpurukan. Tidakkah satupun dari mereka melihat semuanya sedang tidak baik baik saja? Tidakkah?
                Apa yang salah denganku? Aku selalu mencoba berlari mengejar ketertinggalanku untuk berjalan sejaja denganmu,tapi mengapa kau biarkan aku terjatuh tersungkur sendirian? Inikah yang kau sebut dengan kebersamaan? Yang selalu kau teriakkan kepada ku bahwa kita adalah sebuah keluarga tak sedarah? Inikah? Bagaimana mungkin setiap keluarga bias membiarkan keluarga yang lain jatuh tersungkur sendirian. Menahan luka sendirian dan melawan kesendiriannya juga pun sendiri. Ku sudah muak dengan segala hal yag tak pernah ada akhir. Ku lelah melupakkan setiap inci dari rasa sakit yang kurasakan kini. Benar sekali,aku jatuh cinta pada setiap kebersamaan bersama mereka, Jatuh cinta pada setiap kenangan yang telah di lalui bersama. Namun,terlalu sakit untuk membuat semuanya terasa baik baik saja.

                Aku tak mengerti apa yang sedang luka lakukan padaku. Hingga setiap butirnya tak kunjung sembuh dan membaik. Semuanya masih terasa perih dan pedih. Taka da satupun yang bias kuajak berbagi untuk bersama sama berdiri. Ku sendiri,terpuruk dan tersungkur. Berpura pura segalanya sangat baik,dan berharap setiap lukanya akan sembuh. Sembuh pada waktu yang tepat bersama orang yag tepat.